#CELOTEHNYAPAMPAM | KESEHATAN MENTAL (part 1)
Beberapa tahun terakhir ini orang sudah mulai mengenal tentang betapa pentingnya menjaga 'Kesehatan Mental'. Karena sama halnya dengan tubuh, mental akan terdapat gangguan jika tidak dijaga dengan baik. Gangguan mental terdapat banyak macamnya, tidak hanya depresi, masalah gangguan kecemasan atau yang sering kita sebut Anxiety Disorder.
Aku disini berbicara bukan sebagai ahlinya, bukan pula sebagai penyandang. Ini mutlak sebagai pandangan ku terhadap isu Kesehatan Mental. Bukan ingin dianggap sebagai paling paham tapi hanya ingin mengutarakan sebagian pikiran ku, bentuk empati ku terhadap orang-orang yang sedang berjuang untuk sembuh.
Awal mula aku mengenal penyakit mental atau gangguan mental adalah Bipolar Disorder, melalui film Silver Linning Playbooks. Aku pikir gangguan mental hanya ada di dunia perfilm-an atau bahkan diluar negeri, tapi tidak sampai akhirnya orang terdekatku terdiagnosa gangguan mental. Dari mulai penolakan, rasa kesal, sampai mulai sedikit paham bagaimana cara menghadapinya, hingga tumbuh rasa empati yang besar.
Kini aku sebagai seorang ibu, aku mengenal lagi penyakit mental jenis lainnya yang bernama Post Partum Depression, yang lebih mengerikan adalah PPD ini dapat mengarah ke kekerasan terhadap anak. Dari hal ini, aku mulai paham kenapa seorang ibu dapat tega menyakiti, membuang bahkan membunuh anaknya sendiri. Mungkin sebagian orang akan menyalahkan dan mengutuk si Ibu, tapi tidak semudah itu untuk kita menilai hal sekeji yang dia lakukan.
Banyak pula yang selalu mengkaitkan gangguan mental ini kepada hal-hal mistis dan kurangnya iman seseorang. Padahal ini tidak ada kaitannya, gangguan mental sama seperti halnya penyakit yang menggerogoti fisik atau tubuh kita, hanya saja ia tidak terlihat karena menyerang jiwa manusia. Itu kenapa kita harus menjaga kesehatan mental sama seperti kita menjaga kesehatan tubuh.
Yang tidak kalah penting adalah menyikapi kesehatan mental itu sendiri. Kadang kita selalu menolak perasaan negatif yang kita rasa, hingga enggan untuk memeriksakan ke pada ahlinya. Bahkan untuk datang ke Psikologi saja masih dianggap hal yang berlebihan, padahal datang atau berkonsultasi dengan Psikologi tidak hanya saat ada masalah saja.
Gangguan mental dapat menyerang siapapun, tidak mengenal usia, gender, agama ataupun status sosial. "Tetapi gangguan mental juga bukan alasan untuk membenarkan perilaku yang bermasalah, atau menghindarkan kita dari konsekuensi yang kita lakukan. Meskipun beberapa gangguan mental yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai atau diluar dari karakter kita sebenarnya". (dikutip dari @bipolarcare.indonesia)
Satu hal yang dapat aku pelajari adalah ber-empati dan saling menghargai. Mereka yang memiliki gangguan mental bukan ingin dikasihani, tetapi ingin dihargai perasaannya, tidak dihakimi apalagi disalahkan. And want to be treated as a normal people.
Aku sengaja menuliskan Part 1, karena rasanya ingin ku bahas panjang mengenai masalah kesehatan mental ini, semoga bertemu di part lainnya! Terima kasih.
Love,
Pam.

Tidak ada komentar: