#bibusjourney | Screentime

Hai, disesi #bibusjourney ini aku akan bahas soal screentime-nya #tuanJenaka, sebelum itu aku disclaimer dulu kalo ini bukan suatu ajakan, atau membenarkan tentang screentime ini murni cerita dari pengalamanaku dan Jenaka. Ketahuilah ibu-ibu bahwa sebaik-baiknya anak belajar itu adalah belajar bersama kita, orang tuanya.

Well, saat ini Jenaka usianya 2 tahun lebih. Awalnya aku anti banget kasih screentime pada anak dan untungnya di rumah kami tidak ada TV. Tapi, pada Desember 2019 aku mulai memasuki fase sering capek dan bingung itu juga bertetapan pada awal aku kerja memegang social media sebuah online shop.

Akhirnya aku kasih dia handphone untuk nonton YouTube Kids, hanya untuk mendengarkan lagu-lagu anak versi bahasa Indonesia dan CocoMelon. Nggak ada yang aneh hanya lebih mudah tantrum. Aku kira karena memang usianya sudah mendekati 2 tahun, ternyata ada pengaruh dari screentime tersebut. 

Semakin hari durasi semakin bertambah, aku semakin keenakan dengan Jenaka yang anteng. Tiba dimana akhirnya aku sadar kalo ini udah berlebihan, dan itu sudah memasuki Februari 2020, dimana ternyata kita memasuki masa pandemic sebentar lagi. 

Aku merasa bersalah sekali sama Jenaka saat itu, setelah diskusi dengan Mas Ichan kita memutuskan untuk stop kasih dia screentime pada Jenaka. Berat? jelas. Ngamuk? oh tentu! Kuat? Yes we areBerapa lama? Sebentar kok, nggak lebih dari 3 hari Jenaka udah mulai adaptasi.

Dari situ akhirnya  Jenaka banyak main sama kita, bahasanya semakin jelas dan kosakata semakin banyak. Kalo bisa jelasin satu per satu banyak banget perkembangannya. Tapi nggak lama, kitapun mulai memikirkan screentime ini untuk reward atau pengalihan dia ketika aku atau Mas Ichan nggak bisa nemenin dia main.

Screentime #tuanJenaka 
Setelah berhenti hampir 7 bulan, Jenaka nempel banget sama aku kalo dirumah hanya berdua, aku mau ngapa-ngapain agak susah. Sampai pada titik Jenaka mulai tertarik dengan TV setiap kali berkunjung ke rumah Kakek Neneknya, tapi dia nggak pernah minta atau bilang kalo dia ingin nonton.

Aku sama Mas Ichan sempet kaget ketika liat Jenaka anteng depan TV, ketawa dan cerita apa yang dia tonton. Sepanjang hari Jenaka menyebutkan nama tokoh yang ada di TV tersebut.

Di sekitar bulan September 2020 aku dan Mas Ichan kembali berdiskusi, kasih nonton jangan ya? Karena melihat perkembangan Jenaka sudah bisa dibilang aman, terutama pada bahasanya. Lalu kita mengijinkan Jenaka nonton film yang ada di TV melalui aplikasi Youtube di handphone kami. Dia senang bukan main! matanya berbinar-binar ketika dia bilang "Aka nonton bu?".

Dikasih gitu aja? Nggak dong, Jenaka hanya boleh nonton 1 episode setelah makan pagi atau menjelang makan malam, dimana jam-jam tersebut kalo akunya yang sibuk beres-beres atau capek abis main sama dia. Dia nurut. Durasinya nggak lebih dari 10 menit kecuali kalo aku emang lagi ribet sama urusan rumah misal deep cleaning.

Setelah dipikir aplikasi Youtube banyak iklan ya haha! Kitapun gantikan ke aplikasi Netflix dengan kategori Kids. Ada satu tontonan yang dia suka, dengan berbahasa inggris, ceritanya cukup menarik karena tokoh utama selalu ditemani oleh orang tuanya, jadi Jenaka akan tau kalo orang tua adalah peran penting terutama pada usianya saat ini. 

Sampai saat ini Jenaka masih nonton, masih displin dengan segala perjanjian atau pake 'alarm' untuk stop nontonnya. Masih nurut dan nggak mudah tantrum atau nangis-nangis karena harus berhenti nonton. Next post aku akan berbagi tips untuk screentime seusia Jenaka ya! Semoga berkenan :)


Bye,
Pams

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.